Jakarta Maghrib : Film Omnibus Keren!!

jakarta-maghrib_movie_posterUdah lama banget gak nulis di blog..jadi kangen..

Jadinya kemaren coba-coba cari bahan buat nulis di blog, dan akhirnya…taraaaa….aku putuskan menulis tentang film yang belum lama aku tonton yang ke 3 kalinya hehe

Film apa itu??

JAKARTA MAGHRIB!!

Tahu gak film Omnibus itu apa?bagi yang belum tahu,film omnibus ini film yang di dalamnya ada berbagai cerita (short film) yang sutradaranya bisa satu ato banyak.Jadi film ini menyajikan suguhan beberapa short film yang berbeda-beda ceritanya tapi tetap satu tema. Ato kalo masih bingung sono cari di mbah google hehe

Kembali ke LAPTOP!!

Film “Jakarta Magrib” ini terbit sekitar tahun 2010 (aq dapetnya baru tahun 2013 ūüė¶ ) tepatnya tanggal 4 Desember 2010. Aq sih lihatnya di Bioskop pribadi (baca : Laptop ūüėÄ ) dan ini film tayang di bioskop pada tahun 2011. Curcol dikit, sebenernya aq udah pernah nonton fim bergenre omnibus ini dua kali, yaitu pertama kalinya judulnya “Jakarta Hati”. Direkom sama Mbah Jiwo (Sesepuh Teater Langit) dan akhirnya nonton bareng temen-temen Teater Langit. Sumpah awal nonton itu boring banget, ni cerita apaan, cuma pendek2, gak nyambung lagi satu sama lain. Mending waktu itu nonton “Skyfall”nya James Bond. eh Setelah google dan ¬†tahu apa itu film Omnibus, jadi pengen nonton lagi filmnya hehe

Nah di film Jakarta Maghrib ini menyajikan 5 cerita yaitu Iman cuma ingin Nur, Adzan, Menunggu Aki, Jalan Pintas, dan Cerita si Ivan. Masing-masing cerita menyuguhkan pesan yang berbeda-beda, menceritakan kondisi yang berbeda-beda tapi dengan setingan yang sama, Magrib. Masing-masingnya cerita mengalami magribnya sendiri-sendiri di Jakarta. Yang hebat lagi, film-film ini di aktori oleh aktor-aktor hebat yang mungkin aq dan kalian tidak asing lagi. Sebut saja Indra Birowo, Widi Mulia, Asrul Dahlan, Sjafrial Arifin, Lukman Sardi, Ringgo Agus Rahman, Deddy Mahendra Desta, Fanny Fabriana, Lilis, Reza Rahadian, Adinia Wirasti, dan Aldo Tansani. Aktor dan aktris muda tapi punya kemampuan akting yang sudah tidak perlu diragukan lagi.

OK, aq akan ulas secara sederhana bagaimana masing-masing cerita :

1. Iman cuma ingin Nur

img_5848Ini meruupakan cerita pembuka dari keseluruhan film Jakarta Maghrib. Kisah pribadi sepasang suami istri. Iman yang diperankan¬†Indra Birowo dan Nur yang diperankan oleh Widi Mulia. Menurutku ini kisah yang menurutku sederhana, keinginan si suami (Iman) untuk memenuhi kebutuhan seksualnya kepada sang istri (Nur) yang mana waktu itu sudah menjelang mau magrib sedangkan si anak masih rewel. Akhirnya mereka tidak bisa menuntaskan “hajat”nya karena maghrib telah berkumandang. Cuma yang menarik dari cerita ini adalah ada dialog yang antara si Nur dan Ibunya. Si Ibu mengatakan bahwa anak tidak baik jika tidur ketika maghrib. Ini merupakan satu norma yang ternyata masih dipegang kuat di tengah kondisi yang sudah serba modern ini.

2. Adzan

Entah, saya merasa cerita ini yang paling mengena buat saya pribadi. Disajikan dengan pendek (hanya berdurasi 6 menit)Jakarta Maghrib (2011).avi_snapshot_00.15.11_[2012.05.28_23.10.50] bahkan bagian film yang durasinya paling pendek namun cerita religinya kuat sekali disampaikan. Dengan diperankan oleh si Babe (Sjafrial Arifin) dan Baung (Asrul Dahlan) yang berperan sebagai preman, cerita ini mempunyai karakter yang kuat. Mungkin bagi kita yang sering menonton acara religi, pasti sudah bisa menebak alurnya. Ada si Babe yang tua dan suka bersih-bersih musholla termasuk menjadi muadzin di musholla tersebut dengan ada si preman. Maka alurnya dari jahat kemudian bertobat. Dan memang begitu. Dialog yang terjadi antara si Babe dan si Baung adalah dialog yang mungkin sering terjadi dalam film2 religi. Tapi bagiku dialog ini punya kesan yang kuat sekali bahwa sebejat apapun orang, dia pasti menyadari bahwa dirinya hampa dan tidak tenang, dibandingkan dengan si Babe yang cuma bersihin musholla dan tukang adzan tapi hidupnya tenang. Dan pada akhirnya “dialog kematian” yang sempat mengalir dalam dialognya, menjadi nyata di depan si Baung ketika si Babe beranjak dari duduknya dan menuju pintu warungnya tapi tiba-tiba terjatuh dan meninggal. Ini titik tolak si Baung akhirnya “mungkin” bertobat dan menggantikan adzan si Babe sekalipun adzannya ngawur dan menyulut emosi warga.

Ada satu lagi hal yang disentil oleh Salman Aristo, yaitu sikap warga yang marah ketika si Baung preman ini adzan. Sekalipun warganya tidak pernah sholat jamaah di masjid tapi akan sangat marah jika kesakralan masjid itu diganggu. Ini bisa diambil positif tapi juga bisa dianggap negatif. Inilah potret sosial masyarakat yang kaitannya dengan agama.

3. Menunggu Aki

jakarta_maghribPada bagian ketiga ini juga bagian yang menarik untuk disimak. Menggambarkan kondisi masyarakat kelas menengah yang karakter Jakartanya kuat banget, individualis dan ogah bersosialisasi karena sudah capek dengan aktifitasnya masing-masing apalagi ditambah macet di jalanan yang biasanya membuat mereka nyampe rumah malem. Namun kondisi waktu itu sore dan sama-sama menunggu si Aki membuat mereka akhirnya bisa saling kenal dan ngobrol ngalor ngidul dan akhirnya bisa saling bersosialisasi.

Ada hal yang menarik dari dialog yang diperankan oleh¬†Lukman Sardi,¬†Ringgo Agus Rahman,¬†Deddy Mahendra Desta,¬†Fanny Fabriana,¬†Lilis. Pertama, setelah sekian lama kenal mereka ternyata baru kenal karena kumpul sambil nunggu si Aki. Individualis di ceritakan dengan mengalir pada bagian ini. Kedua,¬†masing-masing bercerita dan mengungkapkan kejengkelannya atas keributan yang ada di komplek tersebut dan permasalah di komplek mereka. Kejengkelan karena anak-anak muda disana, kejengkelan karena parkir ngawur dll. Namun uniknya, ketika Tuti (Fanny Fabriana) si wartawan mengajak langsung “aksi”, mereka langsung kembali dengan karakter invidualisnya. Dan akhinya magrib menjadi penutup dari obrolan mereka.

4. Cerita si Ivan

Bagian ini saya pikir tidak ada yang begitu menarik untuk disimak selain persepsi sebagian masyarakat yang mengajarkan bahwa kalo maghrib adalahwaktunya setan keluar, jadi anak kecil gak boleh keluar pas magrib. Dan ini yang dilakukan si Ivan (Aldo Tansani) ketika menakuti-nakuti anak-anak kecil yang main PS di rental agar dia bisa main di tempat yang dia inginkan. Tapi pada akhirnya ketika semua pulang, dan dia main, lalu datanglah maghrib, dia malah ketakutan sendiri dan pulang ke rumah dengan lari terbirit-birit.

5. Jalan Pintas

Bagian kelima ini yang merupakan durasi terpanjang (20 menit). Bercerita tentang sepasang kekasih dengan tipikal yang

1330210137-jakarta-maghrib

berbeda. Si laki-laki (Reza Rahardian) dan Perempuan (Adinia Wirasti), sudah pacaran 7 tahun tapi belum mendapat

restu dari orang tua untuk menikah karena belum mendapat kepercayaan. Dialognya mengalir enak dinikmati hingga nanti pada klimaksnya si perempuan memutuskan untuk putus dengan si laki-laki karena sikap si laki-laki yang cuek, individualis dan keras kepala.

6. Ba’da

Disini menariknya dari semua film. Dari semua karakter tadi dipertemukan secara tidak langsung dalam satu tempat

sehingga membuat film ini seakan-akan nyambung dari awal sampe akhir. Asik deh pokoknya…

Menurut aq film Jakarta Maghrib ini film indonesia yang berkelas dan berkualitas ditengah maraknya film-film Indonesia yang gak jelas. Horor, esek-esek seakan – akan menguatkan kesan Indonesia tidak bisa membuat karya yang bagus.

Bravo bang Salman Aristo. Bravo film Indie Indonesia!!

Wa Cau.

Advertisements

3 thoughts on “Jakarta Maghrib : Film Omnibus Keren!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s