Benarkah Kita Kader KAMMI?

1798171_593990707353745_1097773584_nSebenarnya judul di atas sudah mengendap dikepalaku semenjak KAMMI Malang selesai mengadakan TFI (Training For Instruktur) beberapa waktu yang lalu. Kebetulan salah satu pematerinya adalah Sam Robert (ada yang bilang Gus 😀 ). Karena waktu itu aku bisa datang pada malam hari dan besok paginya sam robert dan rombongan sudah mau balik ke jogja, malam hari itu kumanfaatkan untuk banyak berdiskusi dengan beliau, klo gak salah sampe jam 2.30 pagi. Sebelumnya juga mendengarkan materi dan simulasi mengisi materi untuk DM 1 yang dilakukan oleh peserta TFI sembari mengevaluasi dan memberikan masukan apa yang kurang dan apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan.

Ada yang menarik dari apa yang disampaikan beliau yang akhirnya menjadi renungan juga buat diriku. Ketika beliau memimpin diskusi untuk DM 2 kalo gak salah, dan menjelaskan tentang pengkaderan KAMMI, lalu tiba-tiba ada peserta yang nyeletuk “berarti saya bukan kader KAMMI dong”. Mungkin dia merespon karena selama iini tidak pernah merasakan didikan KAMMI. Justru ini yang menarik untuk diperbincangkan. Yang pada akhirnya aku juga merenung, benarkah aku, kamu, kita, kalian menjadi benar – benar kader KAMMI?

Jujur saja, pertanyaan ini menggelitik perasaan dan menjadi renungan mendalam. Tidak usah melihat siapa – siapa, aku sendiri dari “kecil” sudah masuk di KAMMI. Ketika awal menjadi seorang mahasiswa tahun 2007 sudah mengikuti DM 1, lalu tahun 2008 / 2009 mengikuti DM 2, lalu tahun 2012 mengikuti DM 3. Maka seharusnya orang bilang jika mengikuti hingga jenjang pengkaderan tertinggi maka dialah yang KAMMI banget. Tapi benarkah?

Menelaah Kembali Ke-KAMMI-an Kita

Mungkin pada saat sekarang memang perlu di telisik kembali, di renungi kembali, benarkah kita seorang kader KAMMI. Ya, seorang kader KAMMI. Aku pikir tidak perlu dikasih embel – embel “benar – benar kader KAMMI”, karena kata “seorang kader KAMMI” bagiku sudah mencakup semua hal yang harus dimiliki dan dilalui oleh kader KAMMI. Apa parameter seseorang menjadi seorang kader KAMMI?secara fungsi organisasi jelas, ketika ingin masuk menjadi kader kammi maka dia harus mengikuti dan lulus dalam Daurah Marhalah 1. Namun apakah cukup itu? tentu tidak. Maka proses berikutnya adalah proses dimana dia dibentuk sebagaimana KAMMI ingin membentuk kadernya mulai dari cara berfikir, cara bersikap, cara berpendapat, cara berpenampilan dll yang itu sudah di atur dalam Manhaj Kaderisasi yang ada di KAMMI. Jadi seorang kader yang telah mengikuti DM 1 KAMMI maka di berhak mendapatkan pengkaderan yang ada di KAMMI. Ah, tidak. Bagiku mendapatkan pengkaderan itu bukan hak, namun kewajiban yang harus dilakukan KAMMI terhadap kadernya dan kewajiban kadernya untuk menerima apapun bentuk proses kaderisasi yang ada di KAMMI. Bahkan seharusnya KAMMI mendorong kadernya untuk terus melanjutkan proses pengkaderannya hingga pada level tertinggi. Apakah sudah cukup hanya itu? bagiku tidak. Tentunya bagaimana keaktifan seorang kader terhadap seluruh agenda – agenda yang diadakan oleh KAMMI.

Loyal dan aktif. Ini bagiku parameter untuk mengukur sejauh mana ke-KAMMI-an kita. Karena setiap organisasi pasti akan hidup dan langgeng ketika dia memiliki kader yang loyal dan kader yang aktif. Loyal mencerminkan kebanggaan dan ke-istiqomahan dia terhadap proses kaderisasi dan aktif mencerminkan dia aktif dalam setiap kegiatan organisasi tersebut. Begitu juga dengan KAMMI yang telah mendeklarasikan dirinya sebagai harokatud tajnid (gerakan kader) dan harokatul amal (organisasi amal / berorientasi kerja – kerja publik). Maka mendidik seorang kader yang loyal karena sedari awal dikader sehingga menjadi aktif dalam berkontribusi bernilai manfaat sudah menjadi keharusan. Tidak hanya tugas organisasi, namun juga kesadaran kader untuk mengikuti pengkaderan dan aktif di organisasi tersebut. Memang bagiku sunnatullah ketika ada saja kader yang kemudian menghilang atau lebih memilih untuk ikut organisasi lain dan lebih aktif disana. Namun loyal dan aktif ini yang menjadi parameter dan membedakan, mana yang Kader KAMMI dan mana yang setengah – setengah.

Lalu pertanyaan besarnya adalah apakah kita sebagai kader KAMMI sudah loyal dan aktif?

Menjadi Kader KAMMI atau beramanah di KAMMI?

Bagiku menjadi kader KAMMI atau sekedar beramanah di KAMMI ini berbeda. Tidak hanya berbeda secara redaksional namun bahkan berbeda secara prinsip. Semua orang bahkan bisa merasakan bagaimana beramanah di KAMMI namun tidak semua orang bisa memaknai secara utuh bagaimana menjadi kader KAMMI. Beramanah di KAMMI bisa jadi bukan karena faktor tanggung jawab dan kepedulian  terhadap KAMMI namun hanya sekedar di suruh murobbi atau diminta teman dekat yang  kebetulan jadi pengurus KAMMi di berbagai level struktur atau karena alasan yang lain yang sifatnya bukan ideologis. Dan ini yang membuatku membedakan menjadi kader KAMMI atau sekedar beramanah KAMMI.

Menjadi kader KAMMI ini butuh proses yang panjang. Bahwa menumbuhkan rasa loyal dan aktif ini bukan bentukan dalam waktu bulanan. Bisa jadi malah tahunan. Mendidik kader agar benar – benar mencintai organisasinya bukan sesuatu yang mudah dan gampang apalagi hanya berbekal suruhan murobbi. Ini membutuhkan kesadaran pribadi yang tinggi untuk menjawab sebuah pertanyaan mendasar, “kenapa saya harus berada,dikader dan beramanah di KAMMI”. Dan hanya dengan kaderisasi yang kuatlah kader bisa mencintai KAMMI. Proses kaderisasi itulah yang menghantarkan kader untuk mengenal objek yang akan dicintai sebagaimana seorang aktifis tahun 60 -an, Soe Hok Gie pernah berkata “seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya.”. Proses kaderisasi itulah yang membuat dia tahu dan paham tentang filosofis gerakan KAMMI. Proses kaderisasi itulah yang membedakan apakah dia menjadi kader KAMMI atau sekedar beramanah di KAMMI. Proses kaderisasi itulah yang menghantarkan seorang kader memiliki kesadaran, kehendak dan pemahaman yang utuh bahwa dia harus memberikan kontribusi, beramaal untuk perbaikan bangsa ini melalui KAMMI.

Memang menjadi kader KAMMI atau sekedar beramanah di KAMMI adalah pilihan. Mungkin pilihan hidup lah. Namun alangkah sayang jika sudah mengikuti Daurah Marhalah namun gagal “menjadi kader KAMMI” atau alangkah malang KAMMI ini jika ada kader yang beramanah di KAMMI namun sejatinya kader itu sama sekali tidak paham apa itu KAMMI, tidak paham objek yang seharusnya dicintainya. Dan jika ini terjadi maka organisasi ini hanya tinggal menunggu kemunduran bahkan kehancurannya. Naudzubillahi min dzalik. Semoga tidak terjadi hal yang demikian.

Mungkin ada saatnya kita perlu mendekonstruksi keyakinan kita tentang apakah aku kader KAMMI untuk kemudian membangunnya kembali dengan cara yang benar dan menjadi lebih kokoh. Atau mungkin akan ada yang bertanya “lalu bagaimana dengan kader kammi yang awalnya tidak aktif dikammi namun beramanah di Kammi?”…maka jawabanku adalah anda harus menemukan jalan bagaimana caranya mencintai KAMMi. Anda harus menemukan bagaimana caranya mengenal objek yang nanti harus anda cintai yaitu KAMMI itu sendiri. Anda harus berhasil memantapkan diri bahwa saya tidak sekedar menjadi pengurus KAMMI tapi sayalah KAMMI itu.

Wallahu a`lam.

Wa Cau.

Advertisements

4 thoughts on “Benarkah Kita Kader KAMMI?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s